Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Skin Booster "Kulit Mayat" Viral di Korea: Apa Sebenarnya Fungsinya?

Skin booster hADM berbahan matriks jaringan kulit donor manusia

Ada tren kecantikan Korea Selatan yang belakangan bikin banyak orang melakukan double take. Namanya disebut sebagai skin booster “kulit mayat”.

Sekilas istilah tersebut memang terdengar ekstrem. Apalagi di media sosial muncul berbagai klaim mengenai bahan yang berasal dari jaringan kulit manusia dan kemampuan treatment untuk membuat kulit terlihat lebih sehat serta bertahan berbulan-bulan.

Tapi kalau dibedah secara medis, istilah “kulit mayat” sebenarnya terlalu menyederhanakan teknologi yang digunakan. Produk yang sedang ramai dibicarakan tersebut berkaitan dengan Human Acellular Dermal Matrix (hADM), yaitu matriks jaringan kulit manusia yang berasal dari donor dan telah diproses untuk menghilangkan komponen seluler tertentu.

Jadi, apa sebenarnya fungsi skin booster ini? Dan apakah benar kulit manusia disuntikkan begitu saja ke wajah?

Bukan Sekadar “Kulit Mayat” yang Disuntikkan ke Wajah

Menurut penjelasan Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia (PERDOSKI), istilah “suntik kulit mayat” bersifat sensasional dan tidak menggambarkan proses ilmiahnya secara tepat.

Material yang dimaksud adalah human acellular dermal matrix atau hADM. Jaringan kulit donor diproses sehingga komponen sel yang dapat memicu reaksi imun dihilangkan. Struktur matriks ekstraseluler yang menjadi bagian penting dari jaringan kulit kemudian dipertahankan.

Komponen tersebut antara lain berkaitan dengan kolagen, elastin, dan komponen matriks lainnya.

Dengan kata lain, hADM bukanlah sepotong kulit manusia utuh yang kemudian dimasukkan begitu saja ke dalam wajah. Material tersebut sudah melalui proses pengolahan khusus.

Lalu Apa Fungsi Skin Booster hADM?

Konsep utama hADM berbeda dengan skin booster yang hanya berfokus pada hidrasi. Matriks tersebut digunakan sebagai struktur biologis yang diharapkan dapat mendukung lingkungan jaringan dan proses perbaikan kulit.

Itulah sebabnya teknologi hADM sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam dunia medis. Material sejenis telah lama digunakan dalam berbagai kebutuhan rekonstruksi jaringan, termasuk luka bakar dan prosedur pembedahan.

Yang relatif baru adalah penggunaannya sebagai prosedur estetika pada wajah.

Dalam konteks kecantikan, pembahasannya kemudian mengarah pada potensi peningkatan kualitas kulit, tekstur, dan tampilan kulit secara keseluruhan. Namun, potensi tersebut tetap perlu dibedakan dari klaim pemasaran yang mengatakan hasilnya pasti bertahan dalam jangka waktu tertentu.

Apakah Sama dengan Skin Booster Hyaluronic Acid?

Tidak sama.

Skin booster berbasis hyaluronic acid atau HA pada dasarnya bekerja dengan membantu meningkatkan hidrasi kulit. HA memiliki kemampuan mengikat air sehingga dapat memberikan efek kulit yang lebih lembap dan kenyal.

Sementara itu, hADM membawa struktur matriks jaringan yang jauh lebih kompleks. Material tersebut bukan sekadar cairan HA biasa.

Aspek Skin Booster HA hADM
Bahan utama Hyaluronic acid Matriks dermis donor manusia yang telah diproses
Karakter Berfokus pada hidrasi Membawa struktur matriks ekstraseluler
Teknologi Sudah umum dalam estetika Penggunaan estetika wajah masih relatif baru
Asal bahan Bukan jaringan manusia Berasal dari jaringan kulit donor manusia

Karena komposisinya berbeda, keduanya juga tidak bisa dianggap sebagai treatment yang sama hanya karena sama-sama disebut sebagai skin booster.

Benarkah Berasal dari Jenazah?

Bagian inilah yang membuat tren tersebut menjadi viral.

PERDOSKI menjelaskan bahwa bahan dasarnya memang berasal dari jaringan kulit manusia yang didonasikan. Namun, informasi yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan secara umum bahwa seluruh material tersebut pasti berasal dari jenazah.

Asal donor dan proses pengambilan jaringan merupakan bagian yang harus dijelaskan secara transparan oleh produsen serta fasilitas kesehatan yang menggunakan produk tersebut.

Jadi, menyebutnya sebagai “suntik kulit mayat” memang mudah menarik perhatian, tetapi istilah tersebut tidak menggambarkan keseluruhan proses ilmiah hADM.

Apakah Manfaatnya Sudah Terbukti Kuat?

Nah, di sinilah kita perlu sedikit mengerem antusiasme.

Teknologinya memang memiliki sejarah penggunaan dalam dunia rekonstruksi medis. Tetapi penggunaan hADM sebagai skin booster estetika wajah merupakan konteks yang berbeda.

PERDOSKI menyebut penelitian awal untuk penggunaan tersebut masih melibatkan populasi kecil, sekitar 20 orang dengan masa pengamatan sekitar 20 minggu. Data seperti ini tentu belum cukup untuk memastikan keamanan jangka panjang atau membuktikan bahwa hasil treatment pasti bertahan selama 6 sampai 12 bulan.

Jadi, kalau ada promosi yang langsung menyimpulkan hasilnya pasti tahan lama, sebaiknya jangan menerima klaim tersebut mentah-mentah.

Apa Risikonya?

Karena prosedurnya melibatkan injeksi ke jaringan kulit, risiko medis tetap ada.

PERDOSKI menyebut beberapa kemungkinan komplikasi, antara lain:

  • nyeri dan bengkak;
  • infeksi;
  • peradangan;
  • benjolan atau nodul;
  • reaksi jaringan; dan
  • komplikasi akibat penyumbatan pembuluh darah.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penanganan komplikasinya. Berbeda dengan skin booster berbasis HA yang dapat menggunakan enzim hyaluronidase untuk melarutkan HA dalam situasi tertentu, hADM tidak dapat diperlakukan dengan cara yang sama.

Artinya, pemilihan produk, teknik penyuntikan, dokter yang melakukan tindakan, serta fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dari keselamatan prosedur.

Bagaimana Status Skin Booster “Kulit Mayat” di Indonesia?

Ini justru bagian yang paling penting untuk diketahui sebelum tergoda mencoba.

Pada 18 September 2026, BPOM menyatakan produk skin booster hADM yang viral tersebut belum memperoleh persetujuan, belum terdaftar, dan belum beredar secara resmi di Indonesia. BPOM juga menyatakan sedang melakukan investigasi terkait produk tersebut.

BPOM menjelaskan bahwa berdasarkan PerBPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik, sel, jaringan, atau produk yang berasal dari manusia tidak diizinkan digunakan dalam kosmetik. Karena itu, produk hADM tidak dapat diperlakukan begitu saja sebagai kosmetik biasa.

Jika suatu produk berbahan hADM hendak digunakan di Indonesia sebagai obat atau produk biologi dalam pelayanan kesehatan, produk tersebut harus memenuhi jalur regulasi yang sesuai, termasuk persyaratan keamanan, khasiat, mutu, registrasi, dan evaluasi.

Jangan Tergoda Hanya karena Viral di Korea

Popularitas sebuah treatment di Korea Selatan tidak otomatis berarti treatment tersebut boleh digunakan secara bebas di Indonesia.

Apalagi untuk prosedur injeksi yang menggunakan material biologis. Ada perbedaan besar antara melihat hasil treatment di media sosial dengan mengetahui bagaimana bahan tersebut diproduksi, diproses, disimpan, diuji, dan digunakan pada pasien.

Kalau sebuah klinik menawarkan treatment hADM, pasien idealnya mendapatkan informasi yang jelas mengenai nama produk, produsen, komposisi, asal bahan, legalitas, nomor batch, tanggal kedaluwarsa, penyimpanan, dokter yang melakukan tindakan, serta kemungkinan komplikasinya.

Jangan hanya bertanya, “Hasilnya bisa tahan berapa lama?” Pertanyaan tentang legalitas dan keamanan justru jauh lebih penting.

Jadi, Apa Sebenarnya Fungsi “Skin Booster Kulit Mayat”?

Singkatnya, skin booster yang ramai disebut “kulit mayat” tersebut berkaitan dengan Human Acellular Dermal Matrix (hADM), yaitu matriks jaringan kulit donor manusia yang telah diproses untuk menghilangkan komponen seluler tertentu.

Fungsinya bukan sekadar memberikan hidrasi seperti skin booster HA. Teknologi ini mempertahankan struktur matriks ekstraseluler seperti kolagen dan elastin yang secara teori dapat mendukung proses perbaikan dan kualitas jaringan kulit.

Namun, penggunaan hADM untuk estetika wajah masih membutuhkan bukti klinis yang lebih kuat. Status regulasinya di Indonesia juga menjadi perhatian karena BPOM menyatakan produk yang viral tersebut belum memiliki persetujuan dan belum terdaftar di Indonesia.

Jadi, istilah “kulit mayat” boleh saja membuat penasaran, tetapi jangan sampai membuat kita melewatkan pertanyaan yang jauh lebih penting: apa bahan sebenarnya, bagaimana prosesnya, apa bukti keamanannya, siapa yang menyuntikkan, dan apakah produknya legal digunakan di Indonesia?

Dalam dunia skincare, viral belum tentu berarti siap dicoba. Apalagi kalau sudah masuk kategori tindakan medis.

Posting Komentar untuk "Skin Booster "Kulit Mayat" Viral di Korea: Apa Sebenarnya Fungsinya?"